BREAKING

Latest Post

Tuesday, May 14, 2019

Download 8 Berkas Contoh Laporan Penyuluh Agama Honorer (PAH) Non PNS Th. 2019

Penyuluhan di Majelis Taklim Ikhsan Kec. Sambaliung Kab. Berau Kalimantan Timur
Assalamualaikum Wr.Wb.
Para sahabat penyuluh sekalian..
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu tugas penyuluh adalah menyusun laporan. Maksudnya adalah kegiatan penyusunan dan pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan bimbingan penyuluhan melalui proses konsultasi, meliputi : jumlah sasaran/jumlah peserta, frekuensi, masalah yang dipecahkan, langkah pemecahan yang disampaikan serta hasilnya.
Kegiatan dilakukan sesuai dengan ada tidaknya pelaksanaan konsultasi.
Bagi yang masih bingung seperti apa formatnya. Anda bisa mendownload contohnya di sini DOWNLOAD
Alternatif DOWNLOAD
Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat mengerjakan. Salam semangat selalu.
Lebih cepat di buat LAPORAN, Maka cepat DICAIRKAN.
Wasslam..


Friday, February 15, 2019

Ngaji Nawu Ke-01 (Pengantar Ilmu Nahwu)

Assalamualaikum Wr.Wb.
Sahabat Ngaji Online. Terima kasih atas kunjungannya di blog ini.
Download Materi PPT di Sini

Pada kesempatan kali ini, saya akan memberi pengantar seputar ilmu nahwu yang insyaallah saya paparkan secara lengkap dan praktis melalui blog ini. Dan dalam pengatar ini saya akan meyakinkan Anda semua bahwa belajar gramatika bahasa arab tidaklah sesulit yang kita bayangkan, kenapa demikian? Jawabannya adalah karena memang belajar nahwu shorof tidaklah sulit. yang sulit itu hanya bagi orang yang mempersulit. hehehe....
Maka dari perlu saya jelaskan manfaat atau keguaan ilmu nahwu. karena andaikata tidak berguna maka tentunya Anda tidak akan berkunjung ke sinimencari referensi seputar pembahasan ilmu nahwu.

Kegunaan /Manfaat Ilmu Nahwu
1. Karena kita adalah orang Islam, maka tentunya butuh terhadap ajarannya.
2. Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur'an dan Hadis
3. Al-Qur'an dan Hadis Berbahasa Arab
4. Kitab yang mendukung memahami keduanya juga berbahasa Arab. (Tafsir, Balaghah, Mantiq, Usul Fiqih dll. )
Sampai di sini pahamkan?

Pokok Pembahasan Dalam Ilmu Nahwu
Pembahasan dalam Ilmu Nahwu fokus pada akhir kalimat.
Jadi seperti saya sampaikan tadi bahwa Ilmu Nahwu itu sangat mudah yang di bahas tentang akhir kalimat.
Sedangkan kalimat hanya ada 3 macam yaitu Fi'il Isim dan Huruf
Dan akhir kalimat secara keseluruhan hanya ada 4 yaitu Rofa' Nashob, Jar, Jazam.
Jadi hanya itu yang akan kita pelajari. Maka sekali lagi saya ulangi "BELAR ILMU NAHWU SANGATLAH GAMPANG" buktinya di Pondok-Pondok Pesantren anak-anak dibawah usia 10 tahun akhir-akhir ini sudah banyak yang bisa baca kitab kuning, karena yang mengajarkan tidak mempersulit dan yang diajari mau mempelajarinya.
Jika belum paham dengan tulisan ini. Monggo silahkan tonton Video saya di bawah ini


Thursday, August 30, 2018

Beginilah Cara Cepat Bangun Malam Menurut Kitab Ihya' Ulumiddin

(Ngaji Online) Sahabat Ngaji Online. Pada kesempatan kali ini kita akan membagi tips agar mudah bangun di malam hari untuk melakukan ibadah semisal shalat tahajjud dan ibadah lainnya. Tips ini diambil dari Kitab Ihya' Ulumiddin karya Imam Ghazali berikut ini tipsnya :
واعلم أن قيام الليل لا يتيسر إلاّ من وفق للقيام بشروطه وهي:
Ketahuilah bahwa beribadah diwaktu malam tidak akan mudah kecuali bagi orang yang diberi taufiq untuk bangun dengan disertai syarat-syaratnya, yaitu :
- أن لا يكثر الأكل فيكثر الشرب فيغلبه النوم ويثقل عليه القيام.
Hendaknya tidak memperbanyak makan, sehingga ia memperbanyak minum kemudian ia akan tidur dan berat untuknya bangun.

Lakukanlah 4 Hal Ini Agar Mendapatkan Lailatul Qadar

- أن لا يتعب نفسه بالنهار في الأعمال التي تعيا بها الجوارح وتضعف بها الأعصاب فإن ذلك مجلبة للنوم.
 Tidak membuat payah dirinya di siang hari dengan kegiatan yang dapat membuat lelah anggota badan dan melemahkan urat tubuh karena itu dapat menyebabkan tidur.
- أن لا يترك القيلولة بالنهار فإنها سنّة للاستعانة على قيام الليل.
 Hendaknya tidak meninggalkan qoilulah ( tidur sebentar sebelum dzuhur ) karena itu sunnah agar membantu ia untuk bangun malam.
- أن لا يحتقب الأوزار بالنهار فإن ذلك مما يقسي القلب ويحول بينه وبين أسباب الرحمة.
 Tidak melakukan perbuatan-perbuatan dosa diwaktu siang karena itu menyebabkan kerasnya hati dan membuat ia terhalang dari penyebab turunnya rahmat.
- سلامة القلب عن الحقد على المسلمين وعن البدع.
Hatinya bersih dari dengki terhadap kaum muslim dan bersih dari bid'ah-bid'ah ( sesuatu yang baru dan tidak sesuai dengan ajaran islam ).
- خوفٌ غالبٌ يلزم القلب مع قصر الأمل.
 Rasa takut yang selalu menjadi hal yang pasti didalam hati beserta pendek angan-angan.
- أن يعرف فضل قيام الليل بسماع الآيات والأخبار والآثار حتى يستحكم  به رجاؤه وشوقه إلى ثوابه.
 Hendaknya mengetahui keutamaan beribadah diwaktu malam dengan mendengarkan ayat Al-Qur'an, hadits Nabi serta perkataan para sahabat dan tabi'in sehingga harapan dan keinginannya untuk mendapatkan pahala dapat melecut semangatnya.

Inilah Rahasia Kekuatan Hafalan Imam Bukhari

- وهو أشرف البواعث ، الحب لله وقوة الإيمان بأنه في قيامه لا يتكلم بحرف إلاّ وهو مناج ربه وهو مطلع عليه مع مشاهدة ما يخطر بقلبه ، وأن تلك الخطرات من الله تعالى خطاب معه ، فإذا أحب الله تعالى أحب لا محالة الخلوة به وتلذذ بالمناجاة فتحمله لذة المناجاة بالحبيب على طول القيام .
 Dan pembangkit yang paling mulia, cinta terhadap Allah dan kekuatan iman, bahwa sesungguhnya didalam ibadahnya diwaktu malam ia tidak berkata dengan satu huruf pun kecuali hanya untuk bermunajat kepada Tuhannya dan ia merasakan bahwa Allah memerhatikannya beserta ia menyaksikan apa yang terlintas dalam hatinya, dan sesungguhnya lintasan-lintasan hati tersebut dari Allah yang mengajaknya berbicara, maka bila ia cinta kepada Allah maka pasti ia akan senang bila menyendiri dengan Allah dan merasa nikmat dengan bermunajat kepada Allah sehingga membuat ia merasa senang dengan memperpanjang ibadahnya diwaktu malam.
Sumber Kitab Ihya’ Ulumiddim

Monday, June 11, 2018

Zakat Dengan Uang Menurut Pendapat Syaikhona Kholil Bangkalan


Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang berakhirnya bulan puasa Ramadan, banyak bermunculan pertanyaan seputar hukum menunaikan zakat fitrah dengan menggunakan uang. Di antara yang ramai didiskusikan adalah pendapat Syaikhona Kholil Bangkalan yang memperbolehkan zakat fitrah dengan uang. Kiai Kholil dalam al-Matnu as-Syarif mengatakan:

وَيُسَنُّ اَنْ يُخْرِجَهَا قَبْلَ صَلَاةِ الْعِيْدِ وَيَجُوْزُ إِخْرَاجُ الْقِيْمَةِ

“Dan disunahkan mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat ‘ied. Boleh mengeluarkannya dengan qimah (diuangkan)”. (KH. Kholil Bangkalan, al-Matnu al-Syarif hal.46).

Melafadzkan Niat Puasa Setelah Shalat Witir. Apakah Ada Dasarnya?

Pendapat Kiai Kholil ini berbeda dengan mayoritas ulama’ Syafi’iyyah, baik yang generasi kuno (mutaqaddimin) atau generasi akhir (muta’akhirin). Kiai Thaifur Ali Wafa dalam syarh Matnu as-Syarifmengomentari pendapat Kiai Kholil di atas dengan redaksi demikian:

)قَوْلُهُ وَيَجُوْزُ إِخْرَاجُ الْقِيْمَةِ (وَهَذَا مِمَّا انْفَرَدَ بِهِ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ أَصْحَابِنَا رَحِمَهُمُ اللهُ إِذْ لَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ الشَّافِعِيَّةِ قَالَ الرَّمْلِيُّ فِي النِّهَايَةِ فَلَاتُجْزِئُ الْقِيْمَةُ بِالْاِتِّفَاقِ قَالَ الشِّبْرَامَلِسِيْ أَيْ مِنْ مَذْهَبِنَا

“Statemen Kiai Kholil, Boleh mengeluarkannya dengan qimah (diuangkan), pendapat ini termasuk pendapat pribadi beliau yang berbeda dengan para ashab Syafi’iyyah, sebab tidak satupun ulama’ Syafi’iyyah berpendapat demikian. Al-Ramli dalam Nihayah-nya mengatakan, maka tidak mencukupi mengeluarkan zakat dengan qimah. Ali Syibramalisi dalam komentarnya mengatakan, maksudnya dari madzhab kami, Syafi’iyyah” (KH.Thaifur Ali Wafa, al-Misan al-Lashif bisyarhi Matni al-Syarif, hal.949).

Secara aspek metodologis dan sanad bermadzhab, pendapat Kiai Kholil ini mirip dengan pendapatnya imam al-Bukhari yang juga bermadzhab Syafi’i. Dalam Fath al-Bari, Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan:
“Maksud pendapat Imam al-Bukhari dalam “bab al-‘ardl fi al-Zakat”, adalah bab bolehnya mengambil al-‘ardl (harta selain emas & perak yang memiliki nominal sama dengan harta zakat yang wajib dikeluarkan). Ibnu Rushdi mengatakan, al-Bukhari dalam hal ini sependapat dengan ulama’ Hanafiyyah, meski dalam banyak permasalahan menyelisihi mereka. Akan tetapi al-Bukhari berpendapat demikian karena menyesuaikan dalil yang beliau pahami”. (Ibnu Hajar al-Asqalani, juz.3, hal.312).

Dalam bab tersebut, salah satu yang disampaikan al-Bukhari adalah hadits:
“Sesungguhnya Abu Bakr menuliskan untuk Anas perintah Allah dan Rasul-Nya, barang siapa berkewajiban mengeluarkan unta bintu makhadl dan tidak menemukannya, ia hanya punya bintu labun, maka dapat diterima dengan menambahkan 20 dirham atau dua ekor kambing”.
Ahmad bin Shidiq al-Ghumari al-Syafi’i terkait hadits yang disampaikan al-Bukhari di atas memberi komentar:

وَهُوَ صَرِيْحٌ فِي أَخْذِ الْقِيْمَةِ بَدَلَ الْوَاجِبِ

“Hadits tersebut secara tegas memperbolehkan mengambil nominal sebagai ganti harta yang wajib dizakatkan. (al-Ghumari, Tahqiq al-Amal, hal.57)


Inilah Macam-Macam Tingkatan Puasa, Anda Akan Tahu Perbedaannya


Meski tidak secara tegas mengarah dalam permasalahan zakat Fitrah, esensi pendapat al-Bukhari tersebut juga bisa diterapkan dalam zakat fitrah. Esensi pendapat al-Bukhari adalah kebolehan mengeluarkan harta lain yang seimbang secara nominal, sebagai ganti dari harta zakat yang wajib dikeluarkan. Setelah mengutip pendapat al-Bukhari dan beberapa ulama’ lain, Syaikh Ahmad bin Shidiq al-Ghumari al-Syafi’i menegaskan:

وَاِذَا ثَبَتَ ذَلِكَ فِي الزَّكَاةِ فَهِيَ شَامِلَةٌ لِزَكَاةِ الْفِطْرِإِذْ لَا فَارِقَ أَصْلًا وَالْقِيْمَةُ كَمَا تَكُوْنُ عَرْضَا تَكُوْنُ نَقْدًا بَلْ هُوَ الْأَصْلُ فِيْهَا.

“Apabila mengeluarkan qimah diperbolehkan dalam zakat, maka kebolehan tersebut juga mencakup dalam permasalahan zakat fitrah, sebab tidak ada perbedaan sedikitpun (antara zakat fitrah dan lainnya). Qimah sebagaimana berlaku untuk selain emas dan perak, juga berlaku untuk keduanya, bahkan emas dan perak menjadi dasar dalam menentukan qimah). (al-Ghumari, Tahqiq al-Amal, hal.59).

Dalam perspektif maqashid, kebolehan membayarkan zakat fitrah dengan uang didasarkan pada realita sekarang bahwa yang lebih mashlahat dan dibutuhkan bagi fakir miskin adalah uang. Berbeda dengan zaman Nabi yang waktu itu makanan pokok sangat jarang ditemukan sehingga lebih dibutuhkan fakir miskin. (al-Ghumari, Tahqiq al-Amal hal.94).

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendapat Syaikhona Kholil memiliki sanad bermadzhab dan aspek metodelogi yang kuat dalam madzhab Syafi’i. Boleh mengamalkan pendapat beliau dengan mengeluarkan nominal uang yang sama dengan kadar makanan pokok yang dizakatkan, yaitu nominal beras 2,751 kg.Pendapat kiai Kholil kita pahami sebagai pendapat yang mu’tabar dalam madzhab Syafi’i, sebagaimana pendapat al-Bukhari dan al-Ghumari di atas.

Dengan demikian, tidak perlu beralih taqlid mengikuti pendapat Hanafiyyah yang juga membolehkan zakat fitrah dengan uang. Sebagaimana dijelaskan para fuqaha’ Syafi’iyyah, mengikuti salah satu pendapat yang masih dalam ruang lingkup satu madzhab, lebih baik dari pada bertaqlid mengikuti madzhab lain yang dimungkinkan sulit memenuhi prosedur dan ketentuannya. Dalam perspektif Hanafiyyah sendiri, nominal yang boleh dikeluarkan untuk zakat fitrah terbatas nominal makanan yang dijelaskan dalam hadits, yaitu gandum merah, gandum putih, kurma dan anggur. Berbeda dengan madzhab Syafi’i yang menyesuaikan makanan pokok daerah setempat.
Wallahu a’lam bi al-Shawab.
Sumber: islami.co


Saturday, June 9, 2018

Melafadzkan Niat Puasa Setelah Shalat Witir Apakah Ada Dasarnya?

Assalamu Alaikum Admin Ngaji Online.
Mumpung masih dalam suasana bulan Ramadhan (takutnya lupa kalau gak dicurhatkan sekarang). Saya mau curhat atau tanya  tentang kebiasaan setelah shalat witir yaitu membaca niat puasa secara bersama-sama dengan diucapkan secara keras (melalui lisan). Apakah yang demikian ada dasarnya dalam Fiqih. Terima kasih. Wassalamu Alaikum.

Jawaban:
Waalaikum salam warahmatullah wa barakatuhu

Penanya yang dirahmati Allah. Mengenai pertanyaan Anda apakah amaliyah seperi di atas ada dasarnya dalam kitab fikih?
Perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa niat merupakan fardhu dalam puasa. Puasa tanpa niat maka tidak ada bedanya dengan hanya sekedar menahan lapar (tidak sah hanya lapar saja). Adapun niat puasa khusus dalam bulan ramdhan ialah harus diinapkan atau dalam bahasa fiqih harus tabyit Niyah. yaitu antara maghrib sampai menjelang shubuh untuk puasa yang akan dilakukan besok.

Inilah Macam-Macam Tingkatan Puasa, Anda Akan Tahu Perbedaannya

Jadi membaca sama-sama setelah shalat witir menurut hemat saya tidak lain dalam rangka berhati-hati (ihtiyath) takut kesiangan tanpa berniat di malam harinya.
Adapun melafdzkan niat secara keras memang disunnahkan hal itu berdasarkan keterangan dalam kitab Ad-adzkar an-Nawawi sebagai berikut:

 يستحب أن يجمع في نية الصوم بين القلب واللسان كما في غيره من العبادات ، رغم أنه إن اقتصر على القلب كفاه ، أما إن اقتصر على اللسان فلم يجزئه بلا خلاف (الاذكار النووي(

Disunnahkan menggabungkan niat puasa antara hati dan lisan, seperti pendapat kami dalam ibadah-ibadah yang lain. Jika berniat dengan hati saja, maka sudah dianggap cukup. Namun jika berniat di mulut saja, maka tidaklah mencukupi dan hal tersebut para ulama tidak ada yang beda pendapat.
Jadi kesimpulannya adalah praktik amaliyah di atas memang ada dasarnya.
Wallahu A’lamu Binafsil Amri Wa haqiqatil Haal.


 
Kutipan Ngaji Online

BACA JUGA

 
Copyright © 2016 Abi Hilya