Tahun 2026: Menua dengan Akal yang Mulia

Selamat datang di tahun 2026. Tadi malam, kita mungkin menyaksikan langit benderang oleh perayaan pergantian tahun. Namun, di balik kemeriahan itu, terselip satu hakikat yang tak bisa kita pungkiri: setiap kali angka tahun bertambah, maka jatah umur kita berkurang dan usia biologis kita semakin menua.

Bagi banyak orang, bertambahnya usia sering kali dibayangi oleh ketakutan akan penurunan fungsi fisik, terutama hilangnya ketajaman akal atau kepikunan (kharaf). Namun, dalam khazanah intelektual Islam, terdapat sebuah "rahasia" luar biasa tentang bagaimana seseorang bisa menua namun tetap memiliki akal yang jernih dan marwah yang terjaga.

Imam Ibnu Hajar al-Haytami, dalam kitabnya Al-Zawajir 'an Iqtiraf al-Kaba'ir, memberikan ulasan mendalam mengenai fenomena ini dengan merujuk pada otoritas tafsir generasi salaf.

Landasan Utama: Pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Haytami

Dalam teks kitab tersebut, Imam Ibnu Hajar al-Haytami menegaskan sebuah kaidah yang menjadi harapan besar serta motivasi bagi setiap penuntut ilmu di usia berapa pun:

قَال الإِمَامُ ابْنُ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: إنَّ الْعَالِمَ لَا يَخْرَف

“Imam Ibnu Hajar al-Haytami —semoga Allah merahmatinya— berkata: 'Sesungguhnya seorang yang alim (ahli ilmu) tidak akan mengalami kepikunan'.”

Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 5 dan Rahasia Al-Qur'an

Pernyataan beliau didasarkan pada penafsiran Ikrimah terhadap Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 5, di mana Allah SWT berfirman mengenai siklus kehidupan manusia:

وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ

“...dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling hina (pikun)...”

Mengenai ayat ini, Ibnu Hajar menukil penjelasan yang sangat spesifik dari Ikrimah:

وَيُؤَيِّدُ قَوْلَهُ قَوْلُ عِكْرِمَةَ: مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ — أَيْ: بِحَقِّهِ — لَا يَصِلُ لِهَذِهِ الْحَالَةِ

“Dan yang menguatkan pendapat tersebut adalah perkataan Ikrimah: 'Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an —yakni dengan sebenar-benarnya— maka ia tidak akan sampai pada kondisi (pikun) tersebut'.”

Frasa "bi haqqihi" (dengan sebenar-benarnya) menjadi kunci utama. Hal ini mengisyaratkan bahwa penjagaan akal bukan didapat dari sekadar membaca lisan tanpa makna, melainkan bagi mereka yang hati dan akalnya terikat dengan makna Al-Qur'an serta perilakunya dibimbing oleh tuntunan wahyu.

Memahami Hakikat Penjagaan: Bukan Sekadar Fisik

Imam Ibnu Hajar memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan "tidak pikun". Beliau membedakan antara penurunan fisik yang wajar karena usia dengan "kepikunan yang menghinakan" (kharaf al-awam). Beliau menjelaskan:

فَالْمُرَادُ بِكَوْنِ الْعَالِمِ لَا يَخْرَفُ أَنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَى خَرَفِ الْعَوَامِّ وَمِنْ عَوْدِ الْكَبِيرِ كَالطِّفْلِ فِي سائِرِ أَحْوَالِهِ بَلْ أَقْبَحَ مِنْهُ

“Maksud dari seorang alim tidak mengalami kepikunan adalah ia tidak akan sampai pada taraf kepikunan orang awam; di mana orang dewasa kembali (berperilaku) seperti anak kecil dalam segala kondisinya, bahkan lebih buruk dari itu.”

Seorang alim mungkin saja melemah secara fisik sesuai hukum alam, namun Allah menjaga kewibawaan dan kejernihan berpikirnya. Inilah bentuk pemuliaan yang oleh Ibnu Hajar disebut sebagai kondisi:

فَهَذَا الَّذِي تُصَانُ عَنْهُ الْعُلَمَاءُ بِاللَّهِ

“Maka kondisi (pikun yang menghinakan) inilah yang mana para Ulama Billah (ulama yang mengenal Allah) dijaga darinya.”

Analisis: Mengapa Ilmu Menjaga Akal?

Secara ilmiah dan spiritual, terdapat faktor-faktor kuat mengapa dedikasi terhadap ilmu mampu menjadi pencegah degradasi mental:

  1. Stimulasi Kognitif yang Berkelanjutan: Aktivitas belajar yang mendalam—seperti menghafal, menganalisis struktur bahasa yang kompleks, serta memahami logika hukum—berfungsi sebagai "latihan" intensif bagi otak. Secara medis, aktivitas intelektual yang konsisten ini membangun cadangan kognitif (cognitive reserve) yang kuat, yang mampu memperlambat proses penuaan sel otak di masa tua.
  2. Ketenangan Jiwa dan Stabilitas Emosi: Kedekatan dengan nilai-nilai ketuhanan melalui ilmu melahirkan ketenangan batin. Karena stres kronis adalah salah satu faktor utama kerusakan neuron otak, maka keimanan menjadi penangkal biologis yang menjaga kesehatan otak.
  3. Barakah dan Inayah Ilahiyah: Allah memuliakan akal yang digunakan untuk menyimpan ilmu-Nya. Sebagai bentuk kemuliaan (takrim), Allah menjaga instrumen berpikir tersebut agar tidak jatuh dalam kehinaan di akhir hayat bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya pada cahaya kebenaran.

Kesimpulan: Resolusi Menuju Masa Tua yang Mulia

Mengawali tahun 2026 ini, mari kita jadikan upaya menuntut ilmu dan berinteraksi dengan Al-Qur'an sebagai resolusi utama. Menuntut ilmu bukan hanya urusan masa muda untuk mencari gelar, melainkan investasi seumur hidup untuk menjaga martabat kemanusiaan kita.

Dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama dan ilmu sebagai panduan hidup, kita sedang berikhtiar agar meskipun tahun demi tahun berganti dan fisik semakin menua, kita tetap menjadi hamba yang penuh hikmah, memiliki akal yang jernih, dan terjaga kehormatannya.


Referensi: Ibnu Hajar al-Haytami, Al-Zawajir 'an Iqtiraf al-Kaba'ir.


Posting Komentar untuk "Tahun 2026: Menua dengan Akal yang Mulia"